Suka atau tidak, sebuah novel yang diangkat ke layar lebar akan membuat keduanya dibandingkan. Mana yang lebih baik? Atau apakah sesuai ekspektasi pembaca novel? Ada yang setuju, sebagian lain mungkin tidak. Namun yang jelas, terdapat sebuah perbedaan yang jelas antara film dari novel dengan film biasa. Khususnya di mata penonton yang telah membaca novelnya lebih dulu.

Dalam membaca sebuah novel, terkadang setiap pembaca memiliki imajinasi yang berbeda-beda mengenai gambaran tokoh utama, karakter, hingga setting lokasi dalam imajinasinya. Hal ini yang membuat tidak sedikit orang akan kecewa setelah menonton film berdasarkan novel favoritnya. Sutradara film ini tentu sadar akan tuntutan tersebut.

Karena itu saya sama sekali tidak menaruh ekspektasi berlebih dalam film ini. Sebagai salah satu pembaca novelnya, mungkin yang paling saya inginkan hanya melihat Kinan versi real. Dan khusus untuk karakter Kinan saya tidak kecewa.

Gambar Tiket Film Surat dari Kematian

Surat dari Kematian adalah sebuah novel dari salah satu paltform digital Watpadd yang dibukukan tahun 2018 dan difilmkan awal 2020. Secara keseluruhan novel dan film memiliki inti cerita yang sama meski di film terdapat beberapa alur yang berbeda. Secara keseluruhan itu tidak banyak memengaruhi, tapi secara tidak langsung membuat kekuatan cerita jadi berkurang.

Surat dari Kematian bercerita tentang misteri pembunuhan berantai Reno, Pasha dan Jo. Sebelum terbunuh, mereka mendapat sebuah surat ancaman. Rumor yang beredar mengatakan bahwa surat tersebut berasal dari arwah Darius, salah satu mahasiswa UGM yang ditemukan gantung diri di Gamaplaza beberapa tahun lalu.

Bila ingin selamat, mereka harus melakukan persis seperti yang diperintahkan dalam surat. Dari ketiganya hanya Pasha yang melakukannya dengan sungguh-sungguh dan berhasil selamat. Reno tidak peduli dengan surat itu sedangkan Jo melakukannya dengan bersandiwara.

Pembunuhan dengan motif yang belum diketahui ini coba diungkap oleh Kinan dan Zein dengan memanfaatkan status Kinan sebagai wartawan magang. Namun tanpa sadar mereka telah membahayakan diri dengan masuk terlalu jauh, nyawa pun jadi taruhannya.

Bagi saya ide cerita ini cukup menarik, tapi ada yang lebih menarik dari itu, yaitu konflik internal antara dua tokoh utama. Sejak awal, Zein dan Kinan dikenalkan sebagai dua sosok dengan karakter yang bertolak belakang. Kinan dengan analisanya yang tajam, sedangkan Zein dengan indra keenamnya.

Dua karakter ini menurut saya yang menjadikan SDK sebagai novel bergenre horor paling unik dibanding horor pada umumnya. Di sini kamu akan melihat kelihaian Kinan dalam merangkai kejadian dengan analisis brilian serta kemampuan indra keenam Zein dalam berkomunikasi dengan dunia gaib. Antara realistis dan mistis.

Berbicara tentang film SDK secara keseluruhan, saya sama sekali tidak menemukan feel selama menonton film ini. bahkan antara Kinan dan Zein yang dalam novel seharusnya sangat kompak justru terlihat sedikit dipaksakan dalam beberapa scene film.

Dalam novel, SDK adalah perpaduan cerita menyeramkan dengan misteri yang penuh teka-teki. Penulis berusaha mengajak pembaca untuk berpikir bagaimana cara pelaku melancarkan aksinya yang sekilas tanpa cela. Di sisi lain ada aura horor yang kuat dan terasa sangat nyata.

Tapi di film saya seperti melihat cuplikan adegan yang terpotong-potong. Tanpa pengenalan tokoh yang cukup kuat, cerita langsung menuju konflik. Membuatnya terlihat buru-buru sekali. Mungkin karena durasi yang terbatas. Alih-alih ingin memadukan unsur tersebut, film ini justru tidak mendapatkan keduanya.

Yang membuat film ini cukup menarik bagi saya adalah Sosok Kinan yang diperankan oleh Carissa Perusset. Ia sukses membuat karakter Kinan sangat hidup. Persis seperti yang saya bayangkan. Sosok Zein sebenarnya juga sudah cukup baik. Tapi terlihat di beberapa scene ia seperti mati gaya.

Saya tidak tahu pertimbangan seperti apa yang membuat beberapa adegan harus diganti atau ditiadakan dalam film, tapi bagi saya yang pernah membaca novelnya merasa banyak bagian penting yang hilang.

Seperti kedekatan Zein dan Kinan dalam membangun sebuah Channel Youtube. Mungkin banyak yang tidak menyadari bahwa mereka sebenarnya adalah Youtuber dalam film ini. Lalu kesan Pak Wibowo dalam film ini yang seperti tempelan saja. Dan ada beberapa adegan lain yang hilang, membuat film ini terasa cukup hambar bagi saya.

Oh iya, film ini juga dimulai dengan adegan seorang anak yang nyaris tertabrak kereta api. Sampai saat ini saya tidak mengerti apa maksud adegan itu. Atau itu bukan bagian dari film?

Yah, saya hanya penikmat film jadi saya mengomentari berdasarkan apa yang saya rasakan saat menonton. Penonton yang kebetulan sudah membaca novelnya. Mungkin lain cerita kalau saya belum membaca novelnya. Tanpa ekspektasi lebih pun tanpa sadar ternyata saya telah membayangkan film akan seperti yang saya bayangkan.

Apa pun itu, sebuah novel yang difilmkan adalah sebuah pencapaian luar biasa yang hampir semua penulis menginginkannya. Congrats, Bang Adham. Semoga ini jadi awal untuk novel-novel selanjutnya yang akan difilmkan. Saya berharap ada sutradara kondang yang tertarik dengan Rahasia Hujan.

Terakhir, untuk novel saya beri rating 4/5 dan film 5/10.

Please follow and like us: