Bukan film marvel namanya bila tidak menyuguhkan kejutan. Film ini mengundang banyak sekali tanda tanya, khususnya bagi penggemar marvel yang telah menantikan film Spider-Man: Far From Home, sebuah  akhir dari fase ketiga Marvel Cinematic Universe. Jadi akan ada banyak hal yang ingin saya ulas di sini.

Sekilas Tentang Spider-Man: Far From Home

Poster utama Spider-Man: Far From Home

Film ini bersetting hanya beberapa saat saja setelah kejadian Avengers: End Game yang sempat menghilangkan separuh penduduk bumi. Film ini juga merupakan akhir dari fase ketiga MCU untuk mengawali fase keempatnya.

Peter Parker bersama semua teman kelas dan gurunya melakukan trip ke Eropa dalam rangka liburan musim panas. Peter Parker yang baru saja mengalami situasi sulit ingin benar-benar liburan dan terbebas dari tugas pahlawan super. Hal itu ia buktikan dengan tidak membawa kostum Spider-Man miliknya.

Namun ternyata ia tidak benar-benar bisa liburan dengan tenang. Spider-Man harus kembali menyelamatkan dunia. Mulai dari Nick Fury yang datang ke kamar hotelnya, beberapa kejadian aneh hingga kemunculan musuh yang bernama Elemental.

Dalam menaklukkan Elemental ia dibantu oleh pahlawan misterius yang diberi julukan Mysterio. Namun siapakah Mysterio dan bagaimana ia bisa datang?

Ternyata misi utama Spider-Man kali ini bukan hanya mengalahkan Elemental. Ada bahaya lain yang jauh lebih besar mengintai. Lantas bagaimana cara Spider-Man mengatasinya? Lalu apakah film ini menampilkan anggota The Avengers yang lain? penasaran kan? 😀

Pembuka Film

Cuplikan pada Trailer

Spider-Man: Far From Home dibuka dengan adegan kejadian di Meksiko yang melibatkan Mysterio dan Nick Fury. Hanya sedikit cuplikan lalu scene beralih ke Amerika, tepatnya di sekolah Peter Parker. Di sini pertanyaan terbesar sebagian besar orang yang telah menonton Avengers: End Game  akan terjawab.

Banyak yang bertanya mengapa mereka masih sekolah, padahal waktu telah berjalan 5 tahun lamanya. Saya tidak akan menjawabnya di sini, untuk lebih jelas sebaiknya nonton saja sendiri. Film ini menyajikan banyak jawaban dan pertanyaan baru secara bersamaan.

Tom Holland

Ada yang menarik bagi saya dari Tom Holland. Sebagai seorang British, ia sangat baik dalam memerankan seorang anak SMA asli Amerika. Bahkan logat British yang sangat kental nyaris tidak pernah terdengar. Padahal kita tahu, saat wawancara atau komunikasi seperti biasa ia selalu menggunakan logat British. Ini sedikit menarik, mungkin logat baginya seperti sebuah alat yang bisa dipakai dan dilepaskan kapan saja dibutuhkan.

Tanpa bermaksud mengesampingkan Tobey Maguire yang banyak diangap sebagai Spider-Man terbaik, Tom Holland juga mampu memerankan Peter Parker dengan sempurna. Karakter anak SMA yang labil dan polos begitu melekat pada dirinya. Seorang superhero yang masih bocah dan sedang jatuh cinta.

Kisah Cinta

Poster Spider-Man, ini adalah cuplikan adegan terakhir

Seperti anak SMA pada umumnya, kisah cinta selalu mengiringi langkah mereka. Seperti yang sudah kita ketahui bersama, Peter Parker adalah siswa SMA yang jenius namun sedikit kaku bila harus berhadapan dengan wanita, apalagi pada MJ (Mary Jane), gadis yang dicintainya sejak lama.

Film ini tidak hanya menceritakan tentang Spider-Man dan Mysterio, tapi kisah cinta yang disuguhkan pun begitu apik. Tidak kurang dan tidak berlebihan. Komposisi yang sempurna, khas anak remaja.

Ini juga yang mungkin membuat saya jadi sedikit jatuh cinta dengan karater MJ di film ini. Ia terlihat seperti gadis sederhana, apa adanya dan sedikit misterius. Berbeda dengan MJ (atau Gwen Stacy) pada film Spider-Man sebelumnya yang terlihat begitu populer dengan kecantikannya dan banyak digemari lelaki. Di film ini MJ sangat biasa, tapi entah justru itu yang membuatnya terlihat luar biasa.

Kisah cinta di film ini bermula saat Peter ingin duduk di sebelah MJ di pesawat dengan cara tak biasa, lalu prosesi pemberian hadiah dan berbagai upaya lain yang selalu saja berakhir kocak sekaligus memilukan. Tidak hanya itu, yang lebih parahnya lagi ternyata Peter harus bersaing dengan seorang laki-laki lain yang cukup populer di sekolah.

Dari keseriusan Peter mendekati MJ kali ini terlihat bahwa ia benar-benar ingin liburan, bukan menjadi pahlawan. Bahkan di saat harus menyelamatkan dunia ia masih memikirkan rencana liburannya. Namun apakah rencananya berhasil? Ternyata tidak semudah itu.

Tidak Hanya Soal Efek CGI

Bila di film Avengers: End Game kamu sudah terbiasa dengan suguhan CGI yang luar biasa, artinya kamu sudah tahu bahwa salah satu ciri khas MCU adalah efek CGI yang luar biasa. Kecanggihan teknologi masih menjadi daya tarik di film ini. Beberapa kali kamu akan terpukau melihat bagaimana teknologi mereka bekerja. Terutama di beberapa scene yang menunjukkan warisan Tony Stark.

Tapi bukan itu bagian yang menonjol di film ini menurut saya. Sebenarnya cukup menonjol, tapi tidak lebih menonjol dari peran Mary Jane. Entah penonton lain mungkin punya pendapat berbeda, tapi bagi saya MJ begitu memukau di film ini. Karakternya yang ‘biasa’ justru memberi aura luar biasa. Ia datang dengan sifat tak acuhnya.

Di scene awal ia terlihat abai pada Peter, meski sebenarnya sangat peduli. Mukanya yang datar dan pembawaannya yang suka asal bicara membuat Peter mungkin tidak menyangka hal itu.

Bahkan sejenak saya sempat lupa bahwa ini adalah film bergenre Superhero, bukan kisah romance SMA. Agak berlebihan mungkin, tapi kisah mereka memang menarik. Yang ingin saya katakan adalah, film ini menampilakn kisah cinta anak SMA yang sesungguhnya.  Sederhana, tapi penuh kesan.

Alur yang Sulit Ditebak

Cuplikan pada Trailer

Bukan film Marvel namanya bila alurnya mudah ditebak. Memiliki durasi standar bagi film-film marvel, 2 jam 9 menit membuat film ini menceritakan banyak hal. Bukan hanya mengalahkan musuh, tapi lebih dari itu.

Tentang sisi psikologis Peter yang masih rapuh selepas kepergian Tony Stark, warisan Tony Stark yang luar biasa, kisah percintaannya dengan MJ, Nick Fury yang ternyata menyimpan rahasia lain hingga akhir yang tak terduga. Khusus untuk kejutan dari Mysterio sebenarnya sudah bisa diprediksi, kecuali bagian akhirnya yang benar-benar licik.

Kamu mungkin bakal berpikir, “wah, akhirnya bahagia, ya. Jadi udah, gitu doang?”. Apalagi memang seperti yang diketahui Spider-Man masih milik Sony, dan Marvel hanya ‘meminjam’ sampai Far From Home. Jadi setelah film ini tidak ada lagi film Spider-Man yang diproduksi Marvel? Nah, apa benar demikian? Sepertinya ini perlu diperdebatkan lagi.

Kenapa? Untuk mengerti maksud saya mungkin kamu harus menonton film ini sampai akhir. Ada scene yang sedikit—atau sangat—membingungkan.

Kalau penasaran, sebaiknya nonton Spider-Man hingga akhir, yang artinya memang hingga film benar-benar berakhir. Di sana kamu bakal menemukan dua post credit. Post credit yang jadi twist ending film ini.

Kesimpulan

Tiket Spider-Man: Far From Home

Film ini tetap luar biasa dengan segala kekurangannya. Termasuk soal MJ yang dianggap banyak orang kurang good looking, padahal bagi saya Zendaya (pemeran Mary Jane) terlihat sempurna di film ini. Efek CGI tetap memukau dan Akhir yang sulit ditebak. Sebagai orang British, Tom Holland juga sangat baik memerankan orang Amerika.

Setiap orang punya pendapat masing-masing. Kamu boleh setuju atau tidak. Untuk rating pribadi dari saya 8,5/10.

Ada poin lainnya yang belum saya ulas dari film ini atau teman-teman punya pendapat lain? boleh tulis pendapatnya di kolom komentar.

Please follow and like us: