Karir, Cinta dan Timbangan adalah tiga hal yang bagi sebagian besar wanita di Indonesia seakan saling betautan—tidak terpisahkan. Banyak wanita biasanya akan merasa takut bila harus menaiki timbangan badan, dan akan stres kalau ternyata jarumnya mengarah ke kanan lebih banyak dibanding hasil timbangan sebelumnya.

Gambar Ulasan Imperfect

Yah, itu yang akhirnya membuat perjalanan cinta dan karir menjadi terganggu. Sebuah timbangan. Kamu salah satunya? Ngaku, deh! Tapi ada juga sih yang sebaliknya, pengin gemuk tapi enggak bisa-bisa. Timbangan selalu bergerak ke kiri, akhirnya insecure juga.

Bukan itu aja sih, ada juga yang engga pede karena pipinya tembem, rambut kriwil, gigi kelinci dan masih banyak lagi. Nah, Imperfect mengangkat sisi itu, ketidaksempurnaan.

Gambar Cuplikan Imperfect
Cuplikan Film Imperfect

Tidak ada manusia yang terlahir sempurna, setiap orang pasti punya kekurangan. Namun bukan berarti kekurangan akan menghambat kita untuk meraih kesuksesan. Engga, justru sebaliknya. Kamu bahkan bisa mengubah kekurangan itu jadi kelebihan yang orang lain engga punya.

Saya suka dengan hampir semua film Ernest Prakasa, ia selalu berhasil mengangkat isu sosial yang kebanyakan orang mungkin tidak terlalu peduli. Seperti Susah Sinyal yang bercerita tentang kedekatan ibu dan anak, dan Cek Toko Sebelah yang menceritakan tentang keluarga Tionghoa dengan sebuah toko warisan. Mengangkat sesuatu yang biasa menjadi luar biasa.

Gambar Cuplikan Film Imperfect
Cuplikan Film Imperfect

Dengan ide sederhana Ernest berhasil mengangkatnya menjadi cerita yang kuat dan sarat makna. Di satu sisi kamu akan terpingkal-pingkal dengan aksi kocak beberapa komika yang turut dalam film tersebut, namun di sisi lain mereka juga dapat membuat matamu berkaca-kaca. Film Ernest adalah paket komplit untuk mereka yang menyukai drama dan komedi dalam satu tempat.

Kembali ke Imperfect. Dewasa ini standar kecantikan wanita semakin tidak masuk akal. Badan langsing, pipi tirus dan banyak hal lainnya yang kadang hanya menyiksa diri dengan diet super ketat. Kemudian muncul istilah body goals untuk golongan wanita yang dianggap memiliki penampilan sempurna.

Film ini merupakan adapatasi dari novel bestseller berjudul sama karya Meira Anastasia, istri Ernest Prakasa. Beberapa aktor kondang bermain dalam film ini, antara lain Jessica Mila, Reza Rahadian, Yasmin Napper, Karina Suwandi, Dion Wiyoko dan Ernest Prakasa sendiri.

Film ini mengajarkan kita arti cantik yang sesungguhnya. Bercerita tentang Rara (Jessica Mila) yang seringkali merasa tidak percaya diri karena memiliki badan lebih besar dibanding gadis pada umumnya. Hal itu seringkali membuatnya mendapatkan perlakuan buruk. Sangat bertolak belakang dengan adiknya Lulu (Yasmin Napper) yang memiliki tubuh ideal.

Beruntung ia memiliki Dika (Reza Rahadian), kekasih yang mencintainya dengan tulus dan Fey (Shareefa Daanish), sahabat yang selalu ada untuknya. Tapi itu tidak cukup, Rara ingin meraih apa yang sebelumnya tidak bisa ia dapatkan, meski harus dengan diet ketat yang menyiksa diri.

Dapatkah Rara meraih apa yang selama ini ia inginkan? Untuk tahu lebih jauh sebaiknya langsung saja ke bioskop dan noton filmnya.

Yah, seperti yang saya tulis sebelumnya, tidak ada manusia yang sempurna—termasuk seorang Ernest Prakasa. Film ini juga memiliki beberapa kekurangan, salah satunya menurut saya adalah klimaks yang sebenarnya masih bisa dieksplore. Saya justru lebih dapat emosinya di beberapa adegan lain ketimbang klimaks yang seharusnya bisa meledak di situ.

Gambar Cuplikan Film Imperfect

Terlepas dari itu semua, bagi saya film ini tetap luar biasa. Good job buat Ernest. Semoga Koh Ernest tetap konsisten dengan film-filmnya yang selalu mengangkat isu konflik sosial biasa menjadi luar biasa.

Imperfect berhasil mengajarkan–tanpa menggurui—bagaimana cara menghargai apa yang kita miliki saat ini. Setiap orang berhak bahagia, dan kekurangan bukanlah suatu hambatan untuk meraihnya.

Oh iya, saya terlalu larut saat menonton film ini, jadi lupa mencatat beberapa quote yang ngejleb banget. Pokoknya kamu harus nonton, khususnya bagi yang sering merasa selalu insecure akibat penampilan dan mereka yang menganggap body shaming adalah hal biasa. Ada pesan dan banyak pelajaran untuk kita semua.

Akhir kata, rate 8/10 untuk film ini. Selamat menonton.

Please follow and like us: