“panggilan alam liar”

Mengisahkan seekor anjing manja bernama Buck. Beruntung karena ia memiliki majikan seorang Hakim Millier yang sangat disegani di kota itu. Ia hidup di rumah besar yang hangat di California. Namun suatu hari Buck diculik dan dijual untuk menjadi anjing penarik kereta di daerah Yukon yang berselimut salju. Iklim ganas dan kehidupan keras membuat hari-harinya berubah drastis.

Di alam liar itu, yang berlaku adalah hukum taring dan pemukul. Siapa yang kuat, itulah yang bertahan. Dan di sinilah Buck membuktikan ketangguhan serta semangatnya yang tak mudah dipatahkan. Seekor anjing bengal yang manja berubah menjadi anjing liar yang tangguh dan cerdas.

The Call of The Wild adalah sebuah film yang diangkat dari novel mahakarya Jack London pada tahun 1903. Ditulis berdasarkan pengalamannya saat menjadi pencari emas liar di Canada. The Call of the Wild adalah cerita tentang semangat yang tak kenal menyerah serta perjuangan untuk bertahan hidup di Klondike, Alaska.

Memang sudah banyak film yang melibatkan anjing sebagai tokoh utama. Seperti A Dog’s Purpose (2017) dan Hachi: A Dog’s Tale (2009). Namun yang membedakannya adalah film ini tidak membuat penonton termehek-mehek akibat pergolakan emosi seperti yang terjadi saat menonton dua film yang saya sebutkan sebelumnya. Padahal The Call of the Wild juga memiliki banyak adegan memilukan.

Sebagian orang mungkin akan menganggap film ini kurang mengeksplor emosi, tapi saya justru punya pandangan berbeda. Saya berasumsi bahwa tim produksi film memang sengaja tidak memberikan aura kesedihan yang dalam pada film. Sudah jadi rahasia umum bila kesedihan dalam film—apalagi bila itu diambil dari kisah nyata—bisa meningkatkan daya tarik orang untuk menonton.

Tapi tidak untuk The Call of the Wild. Sutradara tahu betul bahwa ada hal lain yang perlu diluruskan. Pertemuan dan perpisahan adalah bagian penting dalam hidup yang tak terindahkan. Seperti Buck yang berkali-kali harus merasakan pertemuan dan perpisahan hingga takdir menuntunnya pada hal tak terduga. Film ini menceritakannya dengan cara berkelas.

***

Review The Call of the Wild

Semula Buck hanyalah seekor anjing manja yang bengal. Namun kerasnya hidup di alam liar mampu mengubahnya menjadi anjing pemimpin yang tangguh. Siapa sangka hidup dapat berubah 180 drajat seperti itu?

Mungkin ini hanya sebuah kisah fiksi, tapi bila diresapi cerita ini memiliki makna yang dalam. Bagaimana semua orang menginginkan kemudahan dan kenikmatan di dunia, padahal kita tidak tahu bahwa mungkin saja kesulitan akan menuntun kita pada kebahagiaan yang sejati.

 Banyak orang (baca: saya) seringkali merasa lelah dengan semua masalah dan terkadang ingin menyerah saja. Padahal kita tidak tahu perjalanan ini akan mengarah kemana. Melalui film ini, seekor anjing mengajarkan kita makna hidup yang sebenarnya; jangan pernah menyerah.

***

Saya belum pernah membaca novelnya jadi tidak tahu pasti apakah cerita dalam novelnya sama atau berbeda. Selain itu film ini juga pernah di-remake beberapa kali, kalau teman-teman tertarik bisa menonton versi sebelumnya atau membeli novelnya.

Selain jalan cerita, ada unsur lain yang menarik perhatian saya selama film berlangsung. Mungkin tidak banyak yang memerhatikan bahwa tokoh Buck ternyata adalah animasi 3D yang dibuat nyaris seperti sungguhan. Cukup takjub bagaimana perkembangan teknologi pada film berkembang sangat cepat saat ini.

Dari semua itu, rating pribadi dari saya adalah 8/10. Film yang luar biasa.

Please follow and like us: